Sabtu, 09 Juni 2012

Jurnal

Implementasi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Untuk Meningkatkan Keandalan Pipa Boiler PLTU 2 - Banten 

Aripin Gandi Marbun 
Teknik Industri Universitas Mercubuana – Jakarta 
Email: ari_gandi@yahoo.com 
                            arifin.gandi@indonesiapower.co.id 

                                                                        ABSTRAK 

               Penelitian yang berjudul Implementasi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Untuk Meningkatkan Keandalan Pipa Boiler PLTU 2 – Banten dilakukan dengan metode deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui modus terjadinya kegagalan atau kerusakan pada pipa-pipa boiler, dan memberikan Failure Defense Task (FDT) agar dapat menanggulangi atau mengatasi kerusakan pipa-pipa boiler. Selama ini untuk boiler ini belum ada reability management dalam meningkatkan keandalan peralatan. Untuk itu penulis ingin mengkaji failure mode yang muncul, menentukan dampaknya terhadap produksi, kemudian menjalankan tindakan koreksi. Dari hasil analisa, penulis menemukan nilai Maintenance Priority Index (MPI) boiler sangat tinggi yaitu 637,12. Sehingga diperlukan perhatian yang lebih agar dapat mengurangi kerusakan/kebocoran pipa boiler. Setelah mendapatkan nilai MPI, penulis mencari nilai Risk Priority Number (RPN) pipa boiler dengan menggunakan Failure Mode and Effect Analysis yang merupakan kalkulasi dari nilai Saverity (S), Occurrence (O) dan Detection (D). Adapun RPN tertinggi pada boiler adalah super heater tube dengan nilai 240. Sedangkan untuk reheater tube, economizer tube, water wall tube mempunyai nilai RPN masing-masing 80. Dilihat dari nilai RPN ini maka penulis merekommendasikan agar boiler ini segera membuat action plan baik untuk sisi operasi, pemeliharaan dan kualitas material yang digunakan. Kata kunci: FMEA, FDT, Nilai MPI, nilai RPN, action plan.

ABSTRAC

             The research that entitled "The Implementation of Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) to Improve Reliability Pipeline Boiler of PLTU 2 - Banten is done with descriptive method. This research aims to determine the mode of occurrence of failure or damage to the boiler pipes, and give Failure Defense Task ( FDT ) in order to overcome the damage to the boiler pipes. So far, these boilers have no reability management in improving equipment reliability. For that reason, the writer wanted to assess the failure modes that arise and determine their impact on production, then perform corrective action. From the analysis, the writer found the Maintenance Priority Index ( MPI ) boiler is as high as 637.12. So it requires more attention in order to reduce the damage / boiler tube leakage. After getting the value of MPI, the authors find the value of Risk Priority Number ( RPN ) boiler tube by using Failure Mode and Effect Analysis which is a calculation of the value Severity (S), Occurrence (O) and Detection (D). The RPN is the highest in the boiler super heater tube with a value of 240. As for the reheater tubes, economizer tubes, water wall tube has a RPN value of each 80. Viewed from this RPN value, the writer wants to recommend to immediately create an action plan for the operation, maintenance and quality of materials used. Keysword: FMEA, FDT, MPI, RPN, action plan 

1. PENDAHULUAN                                                                                  

                Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2 Banten merupakan salah satu pembangkit listrik yang termasuk dalam Proyek Percepatan Difersivikasi Energi (PPDE) 10.000 MW yang dicanangkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia. Adapun pembangkit yang ada di PLTU - 2 Banten adalah 2 unit yang masing-masing daya terpasang 300 MW dengan berbahan bakar utama batu bara. Pembangkit listrik ini dibangun pada tahun 2007 dan beroperasi mulai tahun 2009, sehingga masih tergolong baru, oleh karena itu perlu diketahui performansi setiap peralatan yang digunakan. Untuk itu penulis menganalisa salah satu peralatan utama yang terdapat pada unit 1 yaitu boiler. Boiler merupakan suatu alat untuk mengubah air menjadi uap tekanan dan temperatur tingi (super heater vapor). 
                Perubahan dari fasa cair menjadi uap dilakukan dengan memanfaatkan energi panas yang didapat dari pembakaran bahan bakar. Sebagai media untuk mensirkulasikan air dan uap tersebut pada boiler diperlukan pipa-pipa. Pipa-pipa boiler terdiri dari water wall tube, super heater tube, reheater tube, dan economizer tube. Performansi boiler sangat tergantung kepada keandalan pipa-pipa tersebut, untuk itu diperlukan reability management yang baik agar tidak terjadi derating pada unit pembangkit. Karena seringnya terjadi kebocoran pipa-pipa tersebut maka penulis ingin mengkaji resiko kerusakan dan dampak yang lebih besar terhadap operasional unit pembangkitan dengan menggunakan proses Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). 
               FMEA ini merupakan alat yang secara sistematis mengidentifikasi akibat atau konsekuensi dari kegagalan sistem atau proses serta mengurangi atau mengeliminasi peluang terjadinya kegagalan pada boiler. Dengan adanya proses FMEA ini diharapkan dapat menguji kemampuan proses (performansi) pada pipa-pipa boiler serta mengetahui apa yang menjadi modus kegagalan potensial dan penyebab kegagalan mekanis yang muncul pada proses yang berlangsung.                                                                                    

2. IDENTIFIKASI MASALAH 

              Permasalahan yang dihadapi perusahaan adalah kurangnya kajian untuk meningkatkan performansi boiler. Utuk itu penulis ingin membuat kajian tentang permasalahan yang terjadi pada pipa-pipa boiler. Adapun poin-pion yang ingin diteliti adalah: Mengkaji modus pada pipa-pipa boiler, Mengkaji dampak dari modus kegagalan pada pipa-pipa boiler, Menentukan action plan atau Failure Defense Task berupa rekomendasi untuk semua potensi penyebab kegagalan. 

3. LANDASAN TEORI 

              Sistem Boiler Boiler atau ketel uap merupakan salah satu peralatan utama pada sistem Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang digunakan untuk memproduksi uap. Air yang masuk ke dalam boiler dipanaskan sehingga berubah fasanya menjadi fasa uap. Uap yang dihasilkan bisa berupa uap basah maupun uap kering tergantung pada tujuan pemakaiannya. Sebagai penggerak turbin uap, maka uap yang dibutuhkan adalah uap kering (super heat). Untuk mengubah fasa air menjadi uap dibutuhkan adanya perpindahan panas dari suatu media ke air tersebut. Sehingga dalam mendapatkan panas tersebut, dilakukan dengan media pembakaran. Pembakaran tersebut membutuhkan bahan bakar, udara dan sumber api. Bahan bakar yang digunakan bisa berupa padat, cair, dan gas.
         Untuk PLTU 2 Banten bahan bakar utama yang digunakan adalah batubara, sedangkan untuk pembakaran awal digunakan bahan bakar High Speed Diesel (HSD) dan untuk tipe boiler yang dipakai adalah balanced draft, natural circulation, single reheat type, top supported with single drum. Setelah uap kering (super heat) dari boiler (main steam) akan dimanfatkan untuk memutar High Pressure (HP) turbin pada suhu 541 0C dan tekanan maksimum 17,4 Mpa. Setelah digunakan di HP turbin, uap tersebut dipanaskan kembali kedalam boiler yang menggunakan pipa Reheater sehingga akan mampu kembali menambah temperatur uap dari 3300C menjadi 540 0C dengan tekanan 3,63 Mpa untuk memutar IP turbin. Keluaran uap dari IP turbin dimanfaatkan langsung untuk memutar Low Pressure (LP) turbin. Sehingga ketiga tipe uap tersebut akan memutar turbin sampai 3000 rpm untuk diubah generator menjadi energi listrik.

Peralatan-peralatan Boiler: 

Feed water flow merupakan aliran suplay air pada sistem boiler. Aliran air tersebut melewati pipa-pipa boiler mulai dari economizer, drum, down comer, water wall header dan water wall. 
Sistem aliran udara berfungsi sebagai pemasok kebutuhan udara pada proses pembakaran di ruang bakar boiler. Proses pembakaran berlangsung secara terus menerus selama boiler beroperasi, sehingga pasokan udara pun harus berjalan secara terus-menerus. Peralatan ini terdiri dari udara primer (PA Fan), udara sekunder (FD Fan) dan sistem aliran gas buang (ID Fan). 
Sistem Siklus Air dan Uap. Air yang dipompakan oleh Motor Boiler Feed Pump (MBFP) atau Boiler Feed Pump Turbine BFPT melalui High Pressure Heater kemudian masuk ke economizer. Di dalam economizer tersebut air pengisi dipanaskan sehingga temperaturnya naik mendekati temperatur jenuh. Dari economizer, air pengisi keluar ke outlet header. Dari outlet header ini, air pengisi kemudian dialirkan ke steam drum melalui kedua sisinya. Di dalam steam drum, air pengisi bergabung dengan campuran air dan uap. Di steam drum ini, air akan turun melalui downcomer yang jumlahnya ada 4. Di downcomer inilah tahap awal natural sirkulasi terjadi. Air turun ke titik terendah dari boiler yang kemudian didistribusikan sejumlah water wall / furnace tube melalui beberapa feeder tube. Di water wall inilah air mengalami pemanasan sehingga massa jenisnya turun. Pada water wall ini, air akan berubah menjadi uap jenuh dan mengalir kembali ke steam drum. Dengan adanya perbedaan massa jenis di downcomer dan water wall inilah maka terjadi sirkulasi alami. Uap jenuh yang masuk ke drum boiler kemudian akan mengalir ke superheater support tube inlet header. Setelah itu uap akan mengalir ke superheater support tube outlet header. Dari sini uap dialirkan ke primary superheater inlet header melalui sejumlah tube. Didalam boiler sendiri terdapat beberapa pipa sesuai dengan fungsi masing-masing. Pipa-pipa tersebut dibagi menjadi empat bagian yaitu super heater, reheater, economizer dan water wall. 

4. METODOLOGI PENELITIAN 

           Perumusan Masalah Penelitian Tugas Akhir ini dilakukan di PLTU 2 Banten dengan kapasitas terpasang 2x300 MW. Pada tahap perumusan masalah, penulis mengadakan observasi langsung ke lapangan. Penulis melakukan pengamatan terhadap peralatan, pola pengoperasian dan pemeliharaan yang dilakukan pada area boiler. Adapun kegiatan operasional pada PLTU 2 Banten berlangsung setiap hari kecuali jika ada kerusakan, kegiatan pemeliharaan ataupun permintaan dari PT. PLN (Persero) Pusat Pengaturan dan Pengendalian Beban (P3B) untuk stop. Pengambilan data-data dalam penelitian ini dilakukan mulai beroperasinya pembangkit pada tahun 2009 sampai tahun 2010. Penulis mengambil data-data tentang kebocoran pipa-pipa boiler serta pola operasi yang dilakukan. Sehingga data tersebut akan dianalisa dan diolah untuk mendapatkan kesimpulan dalam hal penanganan peralatan agar terjadinya kebocoran dapat diminimalkan. 
Identifikasi Tujuan dan Manfaat Penulis mengidentifikasi hal-hal yang menjadi tujuan dan manfaat penulisan ini yaitu: 
1.Meningkatkan pemahaman bahwa kegagalan potensial pada proses operasi akan menurunkan performansi peralatan. Dengan adanya pemahaman tersebut, maka perusahaan diharapkan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kinerja peralatan baik itu disisi pemeliharaan, operasi maupun engineering. Agar peralatan dapat handal tentu banyak yang harus diperbaiki baik dari sisi peralatan maupun dari sisi sumber daya manusia sendiri. Dapat dipastikan bahwa dengan adanya penurunan performansi peralatan akan mengakibatkan kerugian pada perusahaan. 
2. Mengidentifikasi defisiensi proses sehingga para engineer dapat berfokus pada pengendalian proses hasil kerja pipa-pipa boiler. Dengan adanya FMEA yang dibuat ini, diharapkan para engineer dapat memberikan rekomendasi akan pola perbaikan pada proses pengoperasian maupun pemeliharaan boiler agar pipa-pipa boiler lebih handal dan memiliki life time yang lebih panjang. 
3.Menetapkan prioritas untuk tindakan perbaikan pada proses. Hal ini digunakan pada saat pebaikan peralatan yang sudah bocor. Dengan adanya prioritas perbaikan akan lebih menguntungkan perusahaan karena adanya fokus kerja yang lebih terarah. 
4.Meyediakan dokumen lengkap tentang perubahan proses untuk memandu pengembangan proses manufaktur atau perakitan dimasa datang. Hal ini akan meningkatkan performanasi peralatan yang akan dirakit, sehingga menjadi acuan dalam memilih desain peralatan yang akan diperguakan dimasa yang akan datang. Pengolahan Data Penulis mengambil data tentang kebocoran pipa-pipa boiler serta pola operasi yang dilakukan. Data tersebut diambil dari pihak engineering, operasi, pemeliharaan, manual book dan buku-buku refrensi lainnya. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan metode FMEA. 
           Adapun langkah-langkah pengolahan data yang dilakukan dalam pengerjaan tugas akhir ini adalah: Mengidentifikasi pola operasi boiler. Membuat daftar masalah-masalah potensial yang terjadi. Menghitung nilai Maintenance Priority Index (MPI) boiler berdasarkan kriteria yang mencerminkan tingkat kekritisan. Menghitung nilai Risk Priority Number (RPN) komponen pipa-pipa boiler. 
          Langkah-langkah Analisa Data Penulisan ini merupakan penelitian terapan yang menganalisa kegagalan peralatan sehingga akan berguna untuk mendapatkan cara-cara terbaik dalam hal pengoperasian boiler agar dapat mengurangi kebocoran pada pipa-pipa boiler. 
          Adapun langkah-langkah menyelesaikan analisa ini meliputi: Pengumpulan data Analisa dan pengolahan data dengan metode FMEA, Menarik kesimpulan dan memberikan saran-saran mendapatkan sistem yang baik dalam pola pengopersian peralatan. 
            Maintenance Priority Index (MPI) Maintenance priority Index (MPI) merupakan rangking peralatan berdasarkan kriteria tertentu yang mencerminkan tingkat kekritisan setelah dirangking dengan metode System Equipment Reability Priorization (SERP). Hasil MPI dari mapping equipment (pemetaan peralatan) merupakan proses identifikasi awal yang memberikan gambaran terhadap peralatan-peralatan kritis yang harus segera mendapatkan penanganan dan peningkatan keandalannya. Proses SERP dilakukan dengan langkah-langkah berikut: Menentukan atau membagi unit pembangkit ke dalam sistem dimana dalam suatu sistem merupakan kumpulan dari beberap peralatan, Menentukan dampak kerusakan dan tingkat keandalan sistem peralatan berupa System Critically Rangking (SCR) dan Operational Critically Rangking (OCR).
 SCR= √((〖OC〗^2+ 〖PT〗^2+〖PQ〗^2+ 〖SF〗^(2 )+ 〖RC〗^2+ 〖PE〗^2+〖RT〗^2)/7) 
Dimana: 
           OC = Operating Cost 
           PT = Process Throught 
           PQ = Product Quality 
           SF = Safety 
           RC = Regulatory / Enviroment Compliance 
           PE = Plan Efficiency 
           RT = Recovery Time 
Dari table dapat dihitung nilai dari Asset Criticality Ranking (ACR) dengan rumusan: 
          ACR = SCR x OCR 
Sehingga nilai Maintenance Priority Index (MPI): MPI = ACR x AFPF 

Failure Modes And Effect Analysis (FMEA) 
            
          Kualitas semakin memegang peran penting seiring dengan perkembangan jaman yang semakin canggih. Semakin tinggi kualitas suatu peralatan maka semakin tinggi pula nilai produktivitas yang dihasilkan. Oleh karena itu, perusahaan semakin perlu untuk berfokus pada quality management demi mencapai sebuah quality excellence. Salah satu tools yang bisa digunakan dalam quality management adalah Failure Modes and Effects Analysis (FMEA). FMEA merupakan alat yang digunakan untuk menganalisa keandalan suatu sistem dan penyebab kegagalannya untuk mencapai persyaratan keandalan dan keamanan sistem, desain dan proses dengan memberikan informasi dasar mengenai prediksi keandalan peralatan. 
          FMEA awalnya mengklasifikasikan jenis failure mode yang muncul, kemudian menentukan dampaknya terhadap produksi, kemudian menjalankan tindakan koreksi. Aktivitas ini bertujuan untuk menghasilkan : Failure Mode / Mode Kegagalan : Semua kegagalan yang pernah terjadi dan potensi kegagalan yang mungkin akan terjadi dari suatu komponen peralatan. Failure Effect / Dampak Kegagalan : Dampak dari mode kegagalan yang telah didaftarkan, baik dampak terhadap peralatan itu sendiri maupun dampak terhadap unit Failure Cause / Penyebab Kegagalan : Penyebab dari mode kegagalan yang telah didaftarkan dimana penyebab ini sifatnya pasti dan merupakan kemungkinan besar jika penyebab kegagalan ini dihilangkan maka mode kegagalan diatas tidak akan terjadi kembali Failure Defense Task (FDT) : Task yang dihasilkan untuk mengatasi, menghilangkan dan meminimalisasi terhadap kemungkinan mode kegagalan yang telah didapatkan dan dapat berupa Planned Maintenance / Tactical Maintenance (Preventive Maintenance, Predictive Maintenance, Over Houl dan Proactive Maintenance) dan Un-planned Maintenance / Non Tactical Maintenance (Corrective Maintenance) serta perbaikan pola operasi dan material peralatan.    
Severity (kefatalan) adalah rangking yang berhubungan dengan efek yang paling serius untuk gaya kegagalan. Severity memiliki tingkatan nilai yang relatif dan mempengaruhi di dalam lingkup individu FMEA itu sendiri. Severity harus diperkirakan menggunakan tabel sebagai petunjuk untuk menganalisa kegagalan yang diusulkan. 
Occurrence (kejadian) adalah mekanisme spesifik yang memungkinkan akan terjadi sepanjang hidup desain. Adapun dalam menentukan nilai occurrence dapat dilihat dengan menggunakaan tabel dibawah.
Detectability (tingkat deteksi) merupakan kemampuan sistem dalam mendeteksi terjadinya kegagalan (failure). Dalam hal ini score yang paling tinggi mempunyai kemampuan mendeteksi yang rendah. 
Nilai Prioritas Resiko adalah produk yang mengatur kefatalan (Severity), kejadian (Occurrence), dan pendeteksian (Detection) yaitu: 
RPN = S x O x D 

5. ANALISA DATA  

1. Nilai Maintenance Priority Index (MPI) boiler Untuk boiler yang digunakan di PLTU 2 Banten didapat hasil data dari pihak engineering bahwa kriteria untuk mendapatkan nilai MPI yang digunakan adalah sebagai berikut: 
-System Critically Rangking (SCR), merupkan komponen-komponen yang menentukan dampak kerusakan dan tingkat keandalan sistem peralatan. Untuk menentukan nilai SCR peralatan dapat dilihat pada tabel 3.1. sampai tabel 3.8. setelah dikalkulasi maka nilai-nilai SCR pada boiler PLTU 2 Banten adalah seperti pada tabel berikut. 
 SCR= 7,964 -Asset Critically Rangking (ACR), merupakan kombinasi dari Operational Criticality Rangking dengan System Critically Rangking dimana peralatan tersebut berada sehingga akan menghasilkan rangking berdasarkan tingkat kekritisannya terhadap operasi unit. Adapun nilai OCR boiler adalah 10 yaitu kegagalan fungsi sistem induk dengan segera, karena dengan bocornya/rusaknya pipa boiler pasti akan membuat unit stop normal untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, sehingga nilai ACR adalah: 
ACR = SCR x OCR = 7,964 x 10 = 79,64 
-Asset Failure Probability Factor (AFPF), menunjukkan tingkat keandalan suatu peralatan dengan parameter yang diukur berupa frekuensi kerusakan dari peralatan tersebut dalam periode satu tahun terakhir. Adapun nilai AFPF pada boiler adalah dalam kondisi very reliable dengan nilai 8. Hal ini disebabkan Kegagalan equipment hanya kadang-kadang bisa memberi peringatan karena kurangnya peralataan yang handal untuk mengetahui kebocoran pada boiler. 
2. Data Hasil Pengamatan FMEA Untuk membuat sebuah tabel FMEA dibutuhkan nilai-nilai severity, occurance, dan detection. Nilai severity dan detection akan didapat dengan mengasumsikan langsung jenis kegagalan dengan tingkatan untuk masing-masing kegagalan dalam tabel severity dan detection yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk mendapatkan nilai occurrence akan didapat dengan mencari nilai Ppk (Probability Process Control). Setelah nilai Ppk diperoleh, kemudian nilai tersebut diasumsikan dengan tingkat occurrence yang ada dalam tabel yang telah ditetapkan. Adapun data kerusakan (failure) boiler unit 1 adalah seperti pada tabel dibawah: 

6. ANALISA HASIL 

1. Nilai Maintenance Priority Index (MPI) Dengan diketahuinya nilai ACR dan AFPF maka dapat dihitung nilai dari MPI boiler yaitu: MPI = ACR x AFPF = 79,64 x 8 = 637,12 
2. Risk Priority Number (RPN) Dari hasil perhitungan sebelumnya diperoleh nilai dari Risk Priority Number (RPN) seperti pada tabel dibawah ini: 
3. Failure Defense Task (FDT) pada Diagram Fishbone Kegagalan atau kebocoran pipa-pipa boiler baik itu disebabkan oleh Burst tube, korosi, las-lasan yang tidak baik, maupun fatiq disebabkan oleh 6 komponen yaitu material, measurement, man, method, mahine dan environment. Hal ini dapat dilihat pada gambar fishbone dibawah. Tujuan pembuatan diagram fishbone ini adalah untuk mengetahui permasalahan yang terjadi dengan menganalisa penyebab timbulnya permasalahan tersebut, sehingga akan diberikan Failure Defense Task (FDT) sebagai saran untuk perbaikan.  
1. Faktor Material 
a. Bahan pipa Akibat dari bahan pipa yang jelek adalah seringnya terjadi kebocoran dan kerusakan pipa. Oleh karena itu struktur bahan pipa sangat berpengaruh akan kekuatan terhadap panas dan tekanan yang digunakan pada boiler. Untuk itu perlu digunakan pipa yang benar-benar mempunyai nilai yang optimal terhadap spesifikasi boiler, terutama ketahanan bahan terhadap pressure dan temperatur boiler. Untuk desain material pipa ini dapat dikonsultasikan kepada pihak yang ahli metalurgi. 
b. Bahan bakar Terjadinya pengikisan atau temperatur pembakaran yang terlalu tinggi akan mengakibatkan korosi pada pipa. Bahan bakar utama yang digunakan yaitu batu bara haruslah mempunyai nilai kalor 4200 sampai 4900 kkal dan memenuhi nilai spesifikasi yang ditentukan agar tidak mengakibatkan cepat rusaknya pipa boiler. c. Kualitas air Kesalahan operasi dalam melakukan injeksi kimia pada siklus PLTU dapat mempengaruhi kualitas air. Injeksi kimia yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menyebabkan air pipa boiler tidak memenuhi syarat yang mengakibatkan bertambahnya laju korosi dan pembentukan deposit. 
2. Faktor Measurement 
a. Tekanan (pressure) Didalam boiler terdapat tekanan udara, tekanan air, maupun tekanan uap dalam setiap pengoperasian. Adapun tekanan yang sangat perlu diperhatikan adalah pada winbox, feed water, steam drum, main steam, super heat dan reheat. Dengan menjaga nilai tekanan sesuai spesifikasi boiler tentu akan mengurangi kemungkinan terjadinya over pressure yang dapat mengakibatkan kebocoran pada pipa boiler. b. Temperatur Selain tekanan, nilai temperatur udara, air maupun uap juga harus dikondisikan agar tidak terjadi over heating yang mengakibatkan kebocoran. Temperatur dapat dijaga dengan adanya peralatan spray water yang diambil dari feed water. Adapun temperatur yang perlu dijaga adalah pada area furnace, feed water, super heater, dan reheater. 
3. Faktor Manusia (Man) 
Kebocoran boiler sangat besar pengaruhnya terhadap pola operasi yang dilakukan operator. Sehingga dapat dipastikan orang yang mengoperasikan peralatan dengan metode yang baik akan meningkatkan kinerja dan hasil produktifitas terbaik pula. Demikian juga dalam pengoperasian boiler perlu diperhatikan hal-hal berikut: Operator atau yang berhubungan dengan peralatan boiler adalah orang berpendidikan yang sudah kompeten dan mempunyai pengalaman yang baik dalam pengoperasian peralatan. Operator mempunyai jadwal yang efektif untuk mengikuti training tentang pengoperasian boiler dari badan sertifikasi agar keterampilannya dapat terus terasah. Motivasi atau semangat seseorang sangatlah berpengaruh terhadap hasil kerja yang dihasilkan. Semakin tinggi motivasi dalam dirinya, maka akan semakin baik hasik kerjanya. 
4. Faktor Methode 
Didalam pola pengoperasian perlu dilakukan metode-metode pemeliharaan agar peralatan lebih efisien dan atau mempunyai life time yang tinggi. a. Soot blower Soot blower berguna untuk membersihkan pipa-pipa boiler dari kotoran sisa pembakaran (jelaga) dengan menggunakan media uap (steam). Walaupun soot blower akan menurunkan efisiensi pembangkitan karena menggunakan steam, tetapi dengan melakukan itu maka umur pipa boiler akan lebih panjang karena dengan membersihkan jelaga tentu akan mencegah terjadinya korosi pada pipa. Sebaiknya dalam melakukan pengoperasian boiler dilakukan 1x24 jam atau temperatur pada first super heater sudah mencapai 445 0C. b. Check sheet Check sheet berguna untuk memantau setiap saat kondisi parameter peralatan baik yang ada di lokal atau di dalam control room. Selain itu check sheet juga berguna sebagai data peralatan jika suatu saat diperlukan untuk mengidentifikasi permasalahan pada peralatan. c. Pemakaian Oksigen (O2) Agar proses pembakaran didalam boiler lebih sempurna, maka perlu pengaturan Oksigen (O2) sesuai grafik dibawah ini. Dengan adanya pembakaran sempurna tentunya produksi akan semakin efisien, abu pada boiler akan berkurang, dan pipa boiler akan lebih tahan dari kebocoran yang diakibatkan korosi. d. Standard Operational Procedure (SOP) SOP berfungsi sebagai pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsinya. Selama ini pengoperasian boiler yang dilakukan sudah dengan baik oleh operator tetapi perlu diperhatikan ketelitian dan kesesuaian SOP yang telah ditentukan. Karena jika SOP tidak dijalankan dengan benar maka akan mngakibatkan kerusakan peralatan dan kecelakaan kerja. 
 5. Faktor Machine/peralatan 
Suatu peralatan apabila dioperasikan secara terus menerus maka akan mengalami penurunan keandalan (reduce realibility) baik karena faktor life maupun penurunan performa bagian-bagian partnya. Untuk itu diperlukan pemeliharaan terencana seperti preventive maintenance, pedictive maintenance dan Over houl. Dalam sisi pemeliharaan perlu dilakukan beberapa inovasi diperalatan agar pipa-pipa boiler lebih handal seperti: Membuat corrosion shell pipa boiler yang berfungsi untuk membungkus pipa yang panjang sebagai penahan agar tidak mudah goyang yang mengakibatkan pipa patah (fatiq). Menambah support (penahan) untuk pipa yang menggantung dan mempunyai getaran kuat yang dapat menyebabkan kebocoran pipa. Meningkatkan performa boiler leakage yang berfungsi untuk mendeteksi tempat kebocoran pipa. Sehingga operator dapat langsung mengeksekusi proses shut down unit demi mengurangi kebocoran yang lebih parah. 
6. Faktor Environment 
Salah satu faktor environtment adalah masalah kebersihan peralatan. Kebersihan peralatan dari area sekitarnya memang tidak berpengaruh langsung atas kinerja boiler, hanya saja kebersihan akan meningkatkan umur mesin. Untuk itu perlu selalu dijaga kebersihan boiler dari kotoran, debu dan benda-benda asing baik untuk peralatan mesin, listrik maupun instrument. 

7. KESIMPULAN DAN SARAN

 Kesimpulan 
          Adapun kesimpulan penulisan ini adalah sebagai berikut: Nilai Maintenance Priority Index (MPI) boiler sangat tinggi yaitu 637,12. Sehingga diperlukan perhatian yang lebih agar dapat mengurangi kerusakan/kebocoran pipa boiler. Pipa super heater lebih cenderung tejadi kebocoran dilihat dari nilai RPN yang lebih tinggi (240) jika dibandingkan dengan pipa reheater, water wall dan economizer. Hal ini disebabkan karena temperatur dan tekanan uap pada pipa super heater lebih tinggi dibandingkan pipa lainnya pada boiler. Pengunaan FMEA sangat perlu dilakukan di boiler sebagai alat (tools) untuk meningkatkan keandalan pipa-pipa boiler dan perbaikan dapat ditingkatkan dengan menggunakan faktor-faktor Failure Defense Task (FDT) pada Diagram Fishbone. 

Saran 
         Setelah melakukan penelitian dan analisa terhadap kebocoran pipa boiler yang terjadi di PLTU 2 Banten, beberapa saran yang diharapkan dapat dijadikan masukan bagi perusahaan maupun penelitian ini adalah: Adanya perbandingan pengkajian dan analisa penyebab kebocoran pipa boiler oleh perusahaan dengan lembaga penelitian dari luar perusahaan untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. FMEA ini perlu terus dikembangkan dan diperbaharui sesuai dengan temuan-temuan baru akan permasalahan peralatan. Semua pembaharuan dan perubahan siklus pengembangan produk untuk produk atau proses tentunya akan lebih meningkatkan efisiensi peralatan. Perlunya dilaksanakan dan ditingkatkan pelatihan/training bagi karyawan agar dapat meningkakan pengetahuan dan teknlogi terbaru baik dalam sisi pengoperasian, pemeliharaan maupun engineering tentang permasalahan boiler.

8. DAFTAR PUSTAKA 

Boiler Specification. 2007. China: Donfang Boiler Grup Co.,Ltd Djokosetyardjo, M. J. 2006. Ketel Uap. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
El – Wakil, M. M. 1992. Instalasi Pembangkit Daya. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Ibrohim, Lim. 2011. FMEA. PT. PGI Consulting Qesh training center.
Sumber: www.ibrosys.com Materi Kursus Umum. 1999. Operasi dan Pemeliharaan PLTU Batubara Unit Pembangkitan Suralaya. Cilegon: PT. Indonesia Power.
Metasari, Nur. 2009. FMEA-Quality Enginering. 2010. Metode FMEA untuk mencegah terjadinya kegagalan kualitas. Sumber: www.qualityengineering.wordpress.com Kumpulan Data Reability. 2010. Reliability Improvement Sequence. Unit Bisnis Operasi dan Pemeliharan Labuan. Pandeglang: PT. Indonesia Power.
Purnomo, Hari. 2004. Pengantar Teknik Industri. Jakarta: Graha Ilmu. Suralaya. 2012. FMEA Introduction. Cilegon: UBP Suralaya. Suralaya Power Generation. 2012. FMEA dan RPN.
Cilegon: UBP Suralaya. Susilo, Leo J. 2010. Manajemen Resiko berbasis ISO 31000 untuk industri dan perbankan. Jakarta: Penerbit PPM.
Tague, Nancy R. 2004. The Quality Toolbox, second edition. Jakarta: ASQ Quality Press.
Tanzil, Fernando. 2009. Jurnal: Evaluasi pengaruh peralatan utama sistem distribusi tenaga listrik terhadap keandalan sistem dengan metode fmea (failure mode and effect analysis).
Sumber: www.repository.petra.ac.id/9500/ Tanzil, J. 2010. FMEA-Registered Public Accountant and Management Consultantan. Sumber: www.jtanzilco.com

Mengenai Saya

Foto Saya
Cilegon - Sidikalang, Banten - SUMUT, Indonesia
Special man.